Surat Buat Ibu
Memperingati hari kelahiran ibu ke-81, 2 Juli 2021.
(Diambil dari antologi Ibuku Surgaku, penerbit KKK, 2020)
Ibuku tersayang,
Jika surat ini sampai di
pelukmu, kuharap engkau baik-baik saja. Jarak membuatku selalu mencemaskanmu,
betapa inginnya aku di dekatmu di penghujung usiamu yang kini genap delapan
puluh tahun. Entah berapa waktu lagi aku akan masih mendengar suaramu,
mendengarmu menyapa anak-anak dan cucumu walau lewai gawai.
Tahukah Ibu, kehilanganmu
adalah ketakutan terbesar yang mengendap di dasar hatiku. Terlebih hanya engkau
yang kumiliki setelah bapak pergi. Walau usia adalah milik-Nya , mungkin saja
Allah yang akan memanggilku lebih dulu. Jika itu yang terjadi aku berharap Allah
memberi kesempatan padaku, untuk berbakti kepadamu, meskipun itu tak akan
pernah dapat membalas apa yang pernah engkau berikan padaku.
Ibu hari ini aku ingin
memutar kenangan tentangmu. Seorang wanita kuat yang melahirkan anak-anak yang
atas izin Allah menjadi anak-anak yang baik. Merawat dan mendidik tujuh anak
bukanlah hal yang mudah terlebih dengan jarak usia masing-masing anak berkisar
satu sampai dua tahun saja. Menunjukkan betapa sabarnya dirimu dalam menghadapi
anak-anakmu di tengah kondisi ekonomi yang kurang begitu baik. Aku berkaca pada
diriku betapa aku sering mengeluh menghadapi tiga jagoanku yang sesungguhnya
baik-baik saja.
Tentang kesabaran dan kesetiaan
mungkin tak ada yang bisa menandingimu. Saat baru menikah tiga bulan, bapak
meninggalkanmu karena harus tugas belajar di Jepang selama tiga tahun dan tidak
memungkinkan untuk membawamu serta. Selama tiga tahun kau setia menunggu kepulangan
bapak, untungnya saat itu kau telah menjadi seorang guru sehingga membuatmu
sedikit terhibur. Kejadian berulang saat bapak mendapat tugas belajar di Jerman
selama satu tahun, saat itu kami masih kecil-kecil. Bu aku ingat saat kita semua sakit, termasuk dirimu, engkau
membawa kami ke klinik milik perusahaan tempat bapak kerja, betapa repotnya.
Kini setelah aku tua aku tak bisa membayangkan jika itu terjadi padaku. Kelak
jika aku mengenangmu aku akan teringat tentang seorang wanita yang setia dengan
cintanya. Tentang ketabahan pun tak ada yang menandingimu. Saat ada masalah
dengan pekerjaan bapak, kau ambil peran, kau lakukan apa saja agar asap di
dapurmu tetap mengepul. Kau berjuang tak kenal lelah untuk membiayai tujuh
orang anakmu.
Bu, aku tidak akan pernah
lupa akan kenangan bersamamu sejak aku masih kecil. Ibu yang selalu membacakan
cerita untuk aku dan adik-adik. Ibu yang selalu mendongeng untuk kami, tujuh
anak-anakmu dengan ekspresi dan intonasi yang tepat sehingga membuat imajinasi
kami berkembang dengan baik. Kau ajari kami tentang kebaikan dan keburukan
tanpa merasa diajari. Ibu , kau rela berhenti menjadi guru demi bisa mendidik
anak-anakmu dengan baik. Aku bersyukur memiliki ibu sepertimu Bu.
Bu, aku selalu ingat
kenangan manis bersamamu saat aku pertama kali masuk sekolah. Kau mengantarku
dengan becak, saat itu hujan turun dengan deras, kau memakaikanku jas hujan
warna biru, tahukah kau Bu, kenangan itu begitu membekas di hatiku karena aku
memakai jas hujan yang kau jahit sendiri, aku merasa jas hujanku paling bagus
karena tidak sama dengan teman-teman yang lain.
Ibu, aku mungkin bukan
anak terbaikmu, aku yang tidak pernah serius, aku yang selalu membuatmu kesal,
tapi tahukah kau Bu, aku sangat mencintaimu namun aku tak mampu mengungkapkan
dengan baik. Ingatkah kau Bu, saat aku duduk di kelas tiga Sekolah Dasar,
kutulis puisi untukmu dan kubacakan dalam lomba di kegiatan Pramuka Siaga. Aku
juara Bu , walau hanya ketiga, aku bangga karena akulah satu-satunya peserta
yang membacakan puisi karya sendiri.
Ibu, kau menemaniku lewat
surat-suratmu yang panjang dengan tulisan tangan yang baik. Sejak aku SMA di
Solo, hingga masa kuliahku di Purwokerto. Tiga lembar surat selalu kau tulis
untukku, dan aku selalu menangis setiap membaca suratmu. Suratmulah yang membuatku
tetap menjadi anak yang baik walau tiada yang mengawasiku. Terkadang kau juga
mengirimiku berbagai macam makanan lewat paket, bahkan kau selipkan sebuah
cincin sebagai hadiah ulang tahunku yang kesembilan belas, tahukah Bu, betapa
teman-temanku pun kagum padamu, kagum akan perhatianmu padaku.
Ibu , di renta usiamu,
kamu tetap menjadi cahaya buat anak-anakmu dan orang-orang di sekitarmu.
Kupikir kau akan lemah setelah bapak pergi. Ternyata dugaanku salah. kau memang terlihat lemah, namun itu hanya
sesaat, karena kemudian engkau bangkit dalam keterpurukan. Kau mengambil peran
bapak, kau menjadi panutan, dan menginspirasi orang-orang di sekitarmu.
Ibu maafkan jika aku tak
mampu merangkai kata dengan baik, sebab air mataku bercucuran saat kutulis
surat ini, betapa banyak kenangan yang kulalui bersamamu dan tak bisa
kupungkiri semua tentang kebaikan yang ada padamu. Kenangan saat kau menemaniku
menunggu anak pertamaku lahir dan anak-anak berikutnya. Kenangan saat kau jaga
aku di rumah sakit saat operasi di rahimku, kau berkeras menjagaku di usiamu
yang saat itu tujuh puluh enam. Betapa kau selalu ada di saat aku
membutuhkanmu, dan itu tidak sebanding dengan apa yang kulakukan untukmu.
Ibu, di sisa waktu ini
izinkan aku bersujud padamu, memohon maaf atas semua kesalahan yang kubuat
untukmu, dan berterima kasih atas segala yang pernah kau berikan padaku,
darahmu yang mengalir di tubuhku semenjak aku dalam rahimmu. Dan air susumu ….
yang tak pernah tergantikan. Ibu jika saat itu tiba kuharap kau meridhoiku
semua yang tidak bisa kuberikan untukmu. Semoga kelak kita akan dipertemukan
kembali di rumah-Nya yang damai
Peluk Cium
Putrimu

Komentar
Posting Komentar