CERPEN


 Anak yang Memandang Bulan








    Gadis kecil itu masih saja berdiri di depan jendela. Tak dihiraukannya dingin malam menyusup ke dalam ruang. Matanya yang bundar berkejap-kejap ada suka cita di sana. Bibirnya mengembang senyum, lalu ia mulai menyanyi, “Bulan , bulan di langit, mengapa engkau sendiri, mari turun ke bumi bermain bersama Chacha,” lalu ia bergumam entah apa yang dikatakannya, tiba-tiba air mata mulai bergulir di pipinya yang menggemaskan.
    “Chacha …. Ayo bobok, sudah cukup bermain bersama bulannya, sudah malam, besok harus ke sekolah,” terdengar suara wanita setengah baya yang kemudian menghampirinya.
    “Iya … Nenek, Chacha mau pamit dulu sama bulan ya,” katanya.
    “Bulan … Chacha bobo dulu ya, besok kita main lagi, tapi besok harus bunder ya .. biar terang!”
    “Dadah bulan …. “
    “Bulan, bulan di langit, mengapa engkau sendiri, mari turun ke bumi bermain bersama Chacha ….” Ia kembali bernyanyi sambil mengikuti neneknya.
    Chacha gadis kecil itu, usianya belum genap lima tahun. Badanya yang gempal dan wajahnya yang cantik membuat siapa pun jatuh hati padanya. Sayang di usia balita ia harus hidup tanpa belai kasih orang tua.
    Ayahnya pergi sejak ia bayi entah kemana, sementara ibunya baru lima bulan yang lalu meninggal karena penyakit yang dideritanya. Tak ada sisa ingatan tentang ayah pada Chacha, ia hanya mengenal ibunya, perempuan cantik berwajah bulat yang sangat menyayanginya. Ibu yang selalu memeluk menjelang tidur dan menyanyikan lagu untuknya. Hampir semua lagu dinyanyikan sampai ia tidur jika tidak Chacha akan berteriak, “Lagi Bu, lagi!” Dari sekian banyak lagu , lagu bulan adalah kesukaan Chaha. Dulu ibunya sering membawanya melihat bulan sambil bernyanyi.
    Chacha belum mengerti tentang makna kematian, yang ia tahu hanyalah rasa rindu yang tidak bisa diungkapkannya.
    “Nenek, mengapa bunda tidak pulang-pulang?” tanyanya suatu hari. Sang nenek tidak mampu menjawab, matanya berkaca-kaca, dipeluknya Chacha erat-erat.
    “Kenapa Nenek nangis, Chacha aja nggak nangis ….”
    “Iya Chacha pintar tidak nangis, nenek kelilipan.”
    “Oh… kelilipan, sini Chacha tiup,” Nenek semakin mengeratkan pelukannya.
    “Nek, Kata Mbak Ega , bunda sekarang sudah di langit, kenapa nggak ajak Chacha ya ? Chacha nggak nakal kok Nek.”
    Entah apa yang terjadi kemudian, sepertinya Chacha mulai mengerti tentang arti kepergian ibunya, ia tahu ibunya tak akan kembali, ibunya pergi ke langit, tepatnya di bulan, ia seperti melihat bayangan ibunya di sana. Chacha selalu tak sabar untuk menunggu malam tiba, ia akan setia di depan jendela menunggu kemunculan sang bulan.
    “Bulan, bulan di langit , mengapa engkau sendiri, mari turun ke bumi bermain bersama Chacha.” Begitu lembut Chacha menyannyi, dari jauh sepasang mata penuh embun menatapnya sedih.
    “Bunda… Chacha tahu Bunda ada di bulan. Chacha senang melihat bulan, seperti Chacha melihat Bunda, Bunda bisa lihat Chacha juga kan?”
    Lain waktu ia akan meminta neneknya menemani keluar, agar lebih jelas katanya. Ia menyanyi lagu bulan dengan kencang agar ibunya mendengar. Lalu ia akan bercerita tentang apa saja yang dialaminya sepanjang hari.
    “Bunda, hari ini Chacha sedih Bun, kata teman-teman Chacha nggak punya ibu. Chacha sedih Bun, tapi Chacha nggak nangis, sebab kata Bunda anak pintar tidak nangis, Chacha kan anak pintarnya Bunda .”
    Setiap hari ritual memandang bulan tak pernah lewat, gadis kecil itu tetap bersemangat bercerita pada ibunya. Wajah muramnya di siang hari hilang kala malam menjelang, meski tidak selalu demikian.
    “Bunda … kata Bunda anak pintar tidak boleh nangis, tapi sekarang Chacha boleh nangis ya Bund, Chacha kangen Bunda, kangen … sekali … , Chacha ingin nyanyi bersama Bunda, ingin main sama Bunda, ingin peluk Bunda, tapi bunda jauh, jauh …sekali … Bunda … hu…hu..,”
    Sang Nenek berusaha menenangkan cucunya, walau hatinya terasa diiris-iris, meratapi kemalangan cucunya yang hidup tanpa kasih sayang ayahnya dan kini bundanya.
    Musim segera berlalu, hujan sudah mulai turun, terkadang seharian mendung tanpa rintik. Hawa dingin membawa pada kepedihan. Malam langit gulita tak ada sebuah bintang pun terlihat di sana, terlebih lagi bulan. Gadis kecil itu membuka gordyn jendela dilihatnya langit gelap tanpa seberkas sinar , tak ada bulan. Ditutupnya gordyn itu ia berjalan menuju kamarnya sambal bernyanyi lirih.

    “Bulan, bulan di langit, mengapa engkau sendiri, mari turun ke bumi, bermain bersama Chacha.”
“Kalau hujan Bunda ke mana ya Nek, bulannya nggak kelihatan” katanya suatu ketika.
Di saat yang lain ia berkata, “Chacha tidur cepet ah Nek, siapa tahu nanti Chaca mimpi ketemu Bunda.”
    Dalam pelukan neneknya Chacha bernyanyi, hingga kantuk mulai menyergap. Lalu dibacanya doa tidur yang sempat diajarkan ibunya, hingga akhirnya terlelap. Nenek terus memeluk cucunya. Diamatinya wajah mungil itu, seulas senyum mengembang dari bibirnya. Mungkin Chacha bertemu Ibunya dalam mimpi. Tapi gundah tetap meliputi hatinya, cucunya hanya memiliki ia, neneknya, yang mulai menua. Entah siapa nanti yang akan melindungi cucunya, ditahan isaknya agar tidak mengganggu tidur cucunya.
    Paginya hari tampak cerah, matahari mulai tampak malu-malu. Jalanan masih basah sisa hujan semalam. Gadis kecil itu keluar dari kamarnya dengan gembira, dicarinya sang nenek yang sedang menyiapkan, sarapan,
     “Nenek … , coba tebak Chacha tadi malam mimpi apa?” katanya ceria.
    “Miimpi makan es krim,” jawab sang Nenek.
    “Nenek salah … Chacha mimpi ketemu Bunda Nek, Bunda cantik sekali …. Tapi Bundanya bersinar Nek kayak bulan, Bunda tersenyum Nek, cantik …. Sekali …” Senyumnya
mengembang, namun sesaat kemudian air matanya mulai mengalir, dan menangis tersedu-sedu, rindu yang teramat dalam.
    Malamnya bulan tak tampak lagi, esoknya pun demikian. Hujan hampir tiap malam mengguyur, bahkan sesekali suara petir bersahut-sahutan. Gadis kecil itu tertunduk lesu, neneknya berusaha untuk menghibur. Gadis kecil itu tidur dengan air mata di kelopak matanya.
    Wanita separuh baya itu pun menghapus air mata di pipinya. Kenangan masa lalu pun melintas. Teringat saat Suci gadisnya mengenalkan lelaki yang diakui sebagai kekasihnya. Pernikahan yang penuh suka cita, masa-masa kebahagiaan putrinya yang ia rasakan terlebih saat buah cinta mereka lahir. Hingga akhirnya kebahagiaan itu sirna, ketika seorang wanita yang mengaku Istri dari menantunya itu datang, merubah semuanya. Suci tidak mau membagi hatinya. Dia tidak ingin dimadu hingga perpisahan itu terjadi. Sejak itu mantan suaminya tak pernah datang, sekali pun untuk menjenguk anaknya.
     Suci bukan perempuan cengeng, ia bekerja untuk mencukupi kehidupannya bersama anak dan ibunya., Hingga kabar itu tiba, ia mengidap kanker payudara. Disembunyikannya semua dari ibunya, ia tidak mau membuat ibunya menangis. Ia tahu sudah berapa banyak air mata yang dikeluarkan Ibu untuk dirinya. Ia berjuang sendiri untuk berobat walau akhinya ibunya pun tahu. Suci menyadari waktunya tidak lama lagi. Ia memanfaatkan setiap detik yang tersisa untuk buah hatinya, hingga saatnya tiba, saat Sang Pemilik Hidup datang menjemput.
    Sudah tiga malam hujan turun dengan deras, gadis kecil itu masih setia di depan jendela. Wajahnya sangat suram, ada rasa sedih yang tidak mampu diungkapkan. Air matanya mengalir tanpa suara, neneknya mendekap erat sambil menghibur. Ia tidak berkata apa-apa, tiba-tiba tubuhnya terasa sangat panas, sang nenek panik lalu menggendong cucunya merebahkan di tempat tidur, lalu berlari menuju kotak obat mencari obat turun panas yang biasa dimasukkan lewat dubur.
    Gadis kecil itu menceracau tak jelas, suhu tubuhnya semakin tinggi, tiba-tiba terdengar suaranya menyanyi, “Bulan-bulan di langit mengapa engkau sendiri ….” Sementara di luar hujan semakin deras.

Villa Indah Permai, 7 Oktober 2020.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Profil dan Visi Misi Kandidat Ketua MGMP BAHASA INDONESIA

RENUNGAN