Amah Dalam Kenangan
Selamat jalan Amah, Covid telah membawamu pergi kemarin, Selasa 29 Juni 2021, semoga damai dalam dekapan-Nya. Kita jarang bercerita, tapi aku menyimpan memori tentangmu di hatiku, dan ini adalah tulisan tentangmu yang kutulis beberapa tahun yang lalu.
CINTA DALAM KUE KERANJANG
Setiap Imlek, kue keranjang selalu singgah di meja rumahku, meskipun aku tidak merayakannya. Entah sudah berapa imlek kue keranjang itu hadir, yang jelas sejak aku mengenal Amah hampir 20 tahun yang lalu. " Amah" begitu kami para tetangga memanggilnya, seorang nenek yang kini tinggal dengan dua orang cucunya, karena suaminya sudah meninggal sekitar tiga tahun yang lalu.
Tadinya kupikir semua tetangga mendapat kiriman kue keranjang darinya, tapi tetanggaku yang lain mengatakan, "Berarti Ibu dianggap soulmate tuh' , Alhamdulillah, Amah dan almarhum suaminya selalu bersikap ramah padaku, beberapa kali Amah mampir walau hanya di teras , sesekali ia bercerita tentang masa-masa sulit yang ia lalui di Kalimantan dulu, dan aku mendengarkan dengan penuh perhatian, karena banyak pelajaran yang dapat aku ambil. Selebihnya kami hanya sekedar" say hello" karena sama-sama sibuk, terlebih saat suaminya mulai sakit-sakitan.
"Opa" demikian aku memanggilnya, merupakan pribadi yang ramah, sisa-sisa ketampanan masih tampak di wajahnya. Ada kenangan manis dengan Opa , saat itu ketika aku lewat di depan rumahnya, ia menyapaku dan berkata, "Terima kasih ya Bu, cucu saya sudah diajak tampil tadi malam, saya senang sekali" aku melihat cahaya di matanya, aku tahu kata-kata itu tulus dari hatinya.
Kedua cucunya Cindy dan Joshua, kulibatkan pada acara pentas tujuh belasan, Cindy bermain drama, sedangkan si adik Joshua menari dan berbalas pantun. Kulihat Amah dan Opa duduk paling depan, berkali-kali kulihat mereka bertepuk tangan, terutama saat Joshua tampil dengan busana daerah Minang Kabau berwarna kuning keemasan dan songket menutup sebagian celananya, wajah Joshua yang putih semakin terlihat tampan.
Setelah itu aku jarang bertemu Amah lagi terlebih saat Opa mulai sakit-sakitan. Beberapa kali aku menjenguk Opa bersama tetanggaku yang lain, Opa terlihat senang, walau sudah tidak mampu berkata-kata lagi.
Hari ini entah Imlek yang ke berapa, kue keranjang kembali singgah di rumahku, semoga manis dan lengketnya kue keranjang semakin mempererat persahabatan kami.
"Gong Xi Fat Cai Amah!"

Komentar
Posting Komentar